nn

Selasa, 21 Januari 2014

kebutuhan dasar Istirahat Tidur ( Materi IDK 2)

| | 0 komentar

A. Pengertian Istirahat dan Tidur Istirahat merupakan keadaan yang tenang, relaks tanpa tekanan emosional, dan bebas dari kegelisahan. (Wahit dan Nurul, 2007). Enam (6) ciri yang dialami seseorang berkaitan dengan istirahat, yaitu: - Merasa bahwa segala sesuatu dapat diatasi. - Merasa diterima. - Mengetahui apa yang sedang terjadi. - Bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan. - Mempunyai rencana-rencana kegiatan yang memuaskan. - Mengetahui adanya bantuan sewaktu memerlukan. (Erfandi, 2008, Konsep Dasar Istirahat dan Tidur, http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/12/22/konsep-dasar-istirahat-dan-tidur/) Sedangkan pengertian tidur antara lain: a. Tidur berasal dari kata bahasa Latin “somnus” yang berarti alami periode pemulihan, keadaan fisiologi dari istirahat untuk tubuh dan pikiran. b. Tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun. (Wahit dan Nurul, 2007). c. Tidur merupakan keadaan hilangnya kesadaran secara normal dan periodik (Lanywati, 2001). d. Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar yang dialami seseorang yang dapat dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Guyton 1981 : 679). Tidur dikarakteristikkan dengan aktivitas fisik yang minimal, tingkat kesadaran yang bervariasi, perubahan proses fisiologi tubuh, dan penurunan respon terhadap stimulus eksternal. B. Fisiologi Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua sistem pada batang otak, yaitu Reticular Activating System (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region (BSR).RAS di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran, memberi stimulus visual, pendengaran, nyeri, dan sensori raba, serta emosi dan 2 proses berpikir. Pada saat sadar RAS melepaskan katekolamin, sedangkan pada saat tidur terjadi pelepasan serum serotonin dari BSR (Tarwoto dan Wartonah, 2003 dalam Wahit dan Nurul 2007). D. Tahapan Tidur Berdasarkan penelitian para ahli dengan menggunakan bantuan alat Elektro Encephalo Graph (EEG), Elektro-Okulogrram (EOG), dan Elektrokiogram (EMG), diketahui ada 2 tahapan tidur, yaitu: 1. NREM atau pola tidur biasa Pola atau tipe tidur biasa ini juga disebut NREM (Non Rapid Eye Movement = Gerakan mata tidak cepat). Pola tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam tidur gelombang pendek karena gelombang otak selama NREM lebih lambat daripada gelombang alpha dan beta pada orang yang sadar atau tidak dalam keadaan tidur. Tanda-tanda tidur NREM adalah : a. Mimpi berkurang b. Keadaan istirahat (otot mulai berelaksasi) c. Tekanan darah turun d. Kecepatan pernafasan turun e. Metabolisme turun f. Gerakan mata lambat Fase NREM atau tidur biasa ini berlangsung ± 1 jam dan pada fase ini biasanya orang masih bisa mendengarkan suara di sekitarnya, sehingga dengan demikian akan mudah terbangun dari tidurnya. Tidur NREM ini sendiri terdiri dari 4 tahap, yaitu: a. Tahap I Tahap ini merupakan tahap transisi, berlangsung selama 5 menit yang mana seseorang beralih dari sadar menjadi tidur. Seseorang merasa kabur dan relaks, mata bergerak ke kanan dan ke kiri, kecepatan jantung dan pernafasan turun secara jelas. Gelombang alfa sewaktu seseorang masih sadar diganti dengan gelombang betha yang lebih lambat. Seseorang yang tidur pada tahap I dapat di bangunkan dengan mudah. b. Tahap II Tahap ini merupakan tahap tidur ringan, dan proses tubuh terus menurun. Mata masih bergerak-gerak, kecepatan jantung dan pernafasan turun dengan jelas, suhu tubuh dan metabolisme menurun. Gelombang otak ditandai dengan “sleep spindles” dan gelombang K komplek. 3 Tahap II berlangsung pendek dan berakhir dalam waktu 10 sampai dengan 15 menit. c. Tahap III Pada tahap ini kecepatan jantung, pernafasan serta proses tubuh berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi sistem syaraf parasimpatik. Seseorang menjadi lebih sulit dibangunkan. Gelombang otak menjadi lebih teratur dan terdapat penambahan gelombang delta yang lambat. d. Tahap IV Tahap ini merupakan tahap tidur dalam yang ditandai dengan predominasi gelombang delta yang melambat. Kecepatan jantung dan pernafasan turun. Seseorang dalam keadaan rileks, jarang bergerak dan sulit dibangunkan. Siklus tidur sebagian besar merupakan tidur NREM dan berakhir dengan tidur REM. 2. REM atau Pola Tidur Paradoksikal Pola atau tipe tidur paradoksikal ini disebut juga (Rapid Eye Movement = Gerakan Mata Cepat). Tidur tipe ini disebut “Paradoksikal” karena hal ini bersifat “Paradoks”, yaitu seseorang dapat tetap tertidur walaupun aktivitas otaknya nyata. Ringkasnya, tidur REM atau Paradoks ini merupakan pola atau tipe tidur di mana otak benar-benar dalam keadaan aktif. Namun, aktivitas otak tidak disalurkan ke arah yang sesuai agar orang itu tanggap penuh terhadap keadaan sekelilingnya kemudian terbangun. Pola atau tipe tidur ini, ditandai dengan: a. Mimpi yang bermacam-macam Perbedaan antara mimpi-mimpi yang timbul sewaktu tahap tidur NREM dan tahap tidur REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM dapat diingat kembali, sedangkan mimpi selama tahap tidur NREM biasanya tak dapat diingat. Jadi selama tidur NREM tidak terjadi konsolidasi mimpi dalam ingatan. b. Mengigau atau bahkan mendengkur c. Otot-otot kendor (relaksasi total) d. Kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur, sering lebih cepat e. Perubahan tekanan darah f. Gerakan otot tidak teratur g. Gerakan mata cepat h. Pembebasan steroid i. Sekresi lambung meningkat j. Ereksi penis pada pria Syaraf-syaraf simpatik bekerja selama tidur REM. Dalam tidur REM diperkirakan terjadi proses penyimpanan secara mental yang digunakan sebagai pelajaran, adaptasi psikologis dan memori (Hayter, 1980:458). Fase tidur REM (fase tidur nyenyak) ini berlangsung selama ± 20 menit. Dalam tidur malam yang berlangsung selama 6 – 8 jam, kedua pola tidur tersebut (REM dan NREM) terjadi secara bergantian sebanyak 4 – 6 siklus. E. Siklus Tidur Selama tidur, individu melewati tahap tidur NREM dan REM. Siklus tidur yang komplek normalnya berlangsung, selama 1,5 jam, dan setiap orang biasanya melalui 4 hingga 5 siklus selama 7 sampai 8 jam tidur. Siklus tersebut dimulai dari tahap NREM yang berlanjut ke tahap REM. Tahap NREM I – III berlangsung selama 30 menit, kemudian diteruskan ke tahap IV selama kurang lebih 20 menit. Setelah itu, individu kembali ke tahap III dan II selam 20 menit. Tahap I REM muncul sesudahnya dan berlangsung selama 10 menit. F. Kebutuhan dan pola tidur normal Bayi baru lahir : Lama tidur 14-18 jam/hari dengan 50% REM dan 1 siklus tidur rata-rata 45-60 menit Bayi(s/d 1 thn) : 1 siklus tidur rata-rata 12-14 jam/hari dengan 20-30% REM dan tidur sepanjang malam Todler(1-3 thn): Lama tidur 11-12 jam/hari dengan 25% REM dan Tidur sepanjang malam + tidur siang Pra sekolah : ± 11 jam/hari dengan 20% REM Usia sekolah : ± 10 jam/hari dengan 18,5% REM Usia sekolah : ± 10 jam/hari dengan 18,5% REM Adolescent : ± 8,5 jam/hari dengan 20% REM Dewasa muda : 7-8 jam/hari dengan 20-25% REM Dewasa menengah : ± 7 jam/hari dengan 20% REM dan sering sulit tidur Dewasa tua : ± 6 jam/hari dengan 20-25% REM dan sering sulit tidur G. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kuantitas dan Kualitas Tidur 1. Penyakit Penyakit dapat menyebabkan nyeri atau distress fisik yang dapat menyebabkan gangguan tidur. Individu yang sakit membutuhkan waktu tidur yang banyak daripada biasanya. Di samping itu siklus bangun-tidur selama sakit dapat mengalami gangguan. 2. Lingkungan Lingkungan dapat membantu sekaligus menghambat proses tidur. Tidak adanya stimulus tertentu atau adanya stimulus yang asing yang dapat menghambat upaya tidur. 3. Kelelahan Kondisi tubuh yang lelah dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Semakin lelah seseorang, semakin pendek siklus REM yang dilaluinya. Setelah beristirahat biasanya siklus REM akan kembali memanjang. 4. Gaya hidup Individu yang sering berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bisa tidur dalam waktu yang tepat. 5. Stres emosional Anxietas (kegelisahan) dan depresi seringkali mengganggu tidur seseorang. Kondisi anxietas dapat meningkatkan kadar norepinefrin darah melalui stimulus saraf simpatis. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya siklus REM tahap IV dan tidur REM serta seringnya terjaga saat tidur. 6. Stimulan dan alcohol Kafein yang terkandung dalam beberapa minuman dapat merangsang SSP (Sistem Saraf Pusat) sehingga dapat mengganggu pola tidur. Sedangkan konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menganggu siklus tidur REM. Ketika pengaruh alkohol telah hilang, individu sering mengalami mimpi buruk. 7. Diet Penurunan berat badan dikaitkan dengan penurunan waktu tidur dan seringnya terjaga disaat malam hari. 8. Merokok Nikotin yang terkandungdalam rokok memiliki efek stimulasi pada tubuh. Akibatnya, perokok sering kali kesulitan untuk tidur dan mudah terbangun di malam hari. 9. Medikasi Obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Hiptonik dapat mengganggu tahap III dan IV tidur NREM, betabloker dapat menyebabkan insomnia dan mimpi buruk, sedangkan narkotik (misalnya, meperidin hidroklorida dan morfin) diketahui dapat menekan tidur REM dan menyebabkan seringnya terjaga di malam hari. 10. Motivasi Keinginan untuk tetap terjaga terkadang dapat menutupi perasaan lelah seseorang. Sebaliknya, perasaan bosan atau tidak adanya motivasi untuk terjaga sering kali dapat mendatangkan kantuk H. Fungsi tidur (Delment & Wolman): Ø Beradaptasi terhadap rangsangan yang dapat menimbulkan kecemasan. Ø Memperbaiki ingatan. Ø Mempermudah mempelajari sesuatu serta dalam mengatasi masalah-masalah yang sulit. Ø Relaksasi I. Gangguan-Gangguan Tidur yang Sering Terjadi 1. Insomnia Insomnia adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur, baik secara kualitas maupun kuantitas. Ada 3 jenis insomnia, yaitu: a. Insomnia inisial, yaitu kesulitan untuk memulai tidur. b. Insomnia intermiten, yaitu kesulitan untuk tetap tertidur karena seringnya terjaga. c. Insomnia terminal, yaitu bangun terlalu dini dan sulit untuk tidur kembali. 2. Parasomnia Parasomnia adalah perilaku yang dapat mengganggu tidur atau muncul saat seseorang tidur. 3. Hipersomnia Hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia, yaitu tidur yang berlebihan terutama pada siang hari. 4. Narkolepsi Narkolepsi adalah rasa kantuk yang tidak tertahankan yang muncul secara tiba-tiba. 7 5. Apnea saat tidur Apnea saat tidur atau sleep apnea adalah kondisi terhentinya napas secara periodik pada saat tidur. J. Konsep pemenuhan aktifitas 1. Pengertian mobilisasi Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan kegiatan dengan bebas (kosier, 1989). 2. Iengertian immobilitas immobilitas secara garis besar merupakan sindrom kemunduran fisiologis yang disebabkan oleh: penurunan aktivitas ketidakberdayaan Adapun dampak yang disebabkan karena immobilisasi adalah : 1. Timbulnya berbagai penyakit, contohnya : Otot menjadi kisut (atrofi) Sendi kaku Infeksi saluran nafas Infeksi saluran kencing dan sembelit Luka lecet pada jaringan kulit yang ditekan akibat tirah baring lama 2. Ketergantungan kepada orang lain 3. Rendahnya kualitas hidup 4. Kematian K.Prinsip mekanika tubuh Mekanik tubuh adalah usaha koordinasi diri muskoloskeletal dansistem saraf untuk mempertahankan keseimbangan yang tepat. Mekanikatubuh dan ambulasi merupakan bagian dari kebutuhan aktivitas manusia Gravitasi merupakan prinsip yang pertama yang harus diperhatikandalam melakukan mekanika tubuh dengan benar, yaitu memandang gravitasi sebagai sumbu dalam pergerakan tubuh. Keseimbangan adalah penggunaan mekanika tubuh dicapai dengan cara mempertahankan posisigaris gravitasi diantara pusat gravitasi dan dasar tumpuhan. Berat dalammenggunakan mekanika tubuh yang sangat diperhatikan adalah berat atau bobot benda yang akan diangkat karena berat benda akan mempengaruhimekanika tubuh. Pergerakan Dasar dalam Mekanika Tubuh mekanika tubuh dan ambulasi merupakan bagian darikebutuhan aktifitas manusia. 1)Gerakan( ambulating) Gerakan yang benar akan membantu mempertahankan keseimbangan tubuh. Misal, orang yang berdiri akan lebih mudah stabil dibanding orang yang berjalan, karena pada posisi berjalan terjadi perpindahan dasar tumpuan dari sisi yang satu ke sisi yanglain. 2) Menahan (Squatting) Dalam menahan sangat diperlukan dasar tumpuan yang tepat untuk mencegah kelainan tubuh dan memudahkan gerakan yang akan dilakukan. 3) Menarik (P ulling) Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menarik benda,diantaranya ketinggian, letak benda, posisi kaki dan tubuh sewaktu menarik (seperti condong ke depan dari panggul), sodorkan telapak tangan dan lengan atas dibawah pusat gravitasi pasien, lengan atas dan siku diletakkan pada permukaan tempat tidur, pinggul, lututdan pergelangan kaki ditekuk dan lalu lakukan penarikan. 4 Mengangkat( lifting )Mengangkat merupakan pergerakan daya tarik. Gunakan otot-otot besar dari tumit, paha bagian atas dan kaki bagian bawah, perut dan pinggul untuk mengurangi rasa sakit pada daerah tubuh bagian belakang. 5) Memutar (pivoting) Memutar gerakan utuk memutar anggota tubuh dan bertumpu padatulang belakang. L. Pengaruh patologis pada kesejajaran tubuh dan mobilisasi Banyak kondisi patologis yang mempengaruhi kesejajaran tubuh dan mobilisasi.Ada empat pengaruh patologis pada kesejajaran tubuh dan mobilisasi yaitu kelainan postur,gangguan perkembangan otot ,kerusakan system saraf pusat, dan trauma langsung pada system musculoskeletal. · Kelainan Postur Kelainan postur yang didapat atau congenital mempengaruhi efisiensi system musculoskeletal,seperti kesejajaran tubuh,keseimbangan ,dan penampilan.Selama pengkajian fisik , perawat mengobservasi kesejajaran tubuh dan rentang gerak.Kelainan postur menggangu kesejajaran tubuh dan mobilisasi keduanya · Gangguan Perkembangan Otot Distrofi muscular adalah sekumpulan gangguan yang menyebabkan oleh degenerasi serat otot skelet.Prevalensi penyakit otot terbanyak pada anak ,karakteristik disterifi muscular adalah progresif,kelemahan simetris dari kelompok otot skelet,dengan peningkatakan ketidakmampuan dan deformitas. · Kerusakan Sistem Saraf Pusat Kerusakan komponen system saraf pusat yang mengatur pergerakkan volunteer mengakibatkan gangguan kesejajaran tubuh dan mobilisasi.Jalur motorik pada serebrum dapat dirusak oleh trauma karena cidera kepala,iskemia karena cidera serebrovaskuler(stroke),atau infeksi bakteri karena meningitis.Gangguan motorik langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan pada jalur motorik.Misalnya ,sesorang yang mengalami hemoragik serebral kanan disertai nekrosis total,mengakibatkan kerusakan jalur motorik kanan dan hemiplegia pada tubuh bagian kiri. · Trauma Langsung Pada Sistem Muskuloskeletal Trauma langsung pada system musculoskeletal menyebabkan memar,kontusio,salah urat dan fraktur.Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jarinagan tulang.Fraktur terjadi karena deformitas tulang (misalnya: fraktopatologis karena osteoporosis,penyakit plaget dan ostoe genesis imperfekta) TIRAH BARING Tirah baring merupakan suatu intervensi dimana klien dibatasi untuk berada ditempat tidur untuk tujuan terapeutik.Tirah baring mempunyai pengertian yang berbeda-beda diantara perawat,dokter,dan tim kesehatan lainnya.Klien dalam kondisi bervariasi dimasukkan dalam kategori tirah baring.Lamanya tirah baring tergantung penyakit atau cidera dan status kesehatan klien sebelumnya. · Tujuan Tirah Baring a. Mengurangi aktivitas fisik dan kebutuhan oksigen tubuh b. Mengurangi nyeri ,meliputi nyeri pasca operasi ,dan kebutuhan analgesic dengan dosis besar c. Memungkinkan klien sakit atau lemah untuk istirahat dan mengembalikan kekuatan d. Memberi kesempatan kepada klien yang lebih untuk beristirahat tanpa terganggu M. Dampak fiologis pada imobilisasi Apabila ada perubahan mobilisasi,maka setiap system tubuh berisiko terjadi gangguan.Tingkat keparahan dari gangguan tersebut tergantung pada umur klien,kondisi,dan kesehatan.Secara keseluruhan serta tingkat imobilisasi yang dialami.Misalnya,perkembangan pengaruh imobilisasi lansia berpenyakit kronik lebih cepat dibandingkan dengan klien yang ebih muda. · Perubahan Metabolik Sistem endokkrin , merupakan produksi hormone –sekresi kelenjar,membantu mempertahankan dan mengantur funsi vital seprti: 1.(respon terhadap stress dan cidera), 2.(pertumbuhan dan perkembangan ), 3.(reproduksi), 4.(homeostatis ion), 5.(metabolisime energi) Cidera atau sters terjadi,system endokrin memicu serangkain respon yang bertujuan mempertahankan tekanan darah dan memelihara hidup.Sistem endokrin penting dalam mempertahankan homeostatis ion. · Perubahan Sistem Resopiratori Klien pasca operasi dan imobilisasi berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi paru-paru.Komplikasi paru-paru yang paling umum adalah antelektasis dan pneumonia hipostatik.Pada atelektasis,bronkeolus menjadi tertutup oleh adanya sekresi dan kolab alveolus distal karena udara yang diabsosbsi,sehingga menghasilkan hipoventilasi.Bronkus utama atau beberapa bronkeolus kecil dapat terkena.Luasnya atelektasis ditentukan oleh bagian yang tertutup.Pneumonia hipostatik adalah peradangan paru-paru pada skibat statisnya sekresi.Atelekstatis dan pneumonia hipostatik , kedunya sma-sama menurunkan oksigenasi ,memperlama penyembuhan ,dan menambah kenyamanan klien. · Perubahan Sistem Kardiovaskuler Sistem kardiovaskuler juga dipengaruhi oleh imobilisasi.Ada tiga perubahan utama yaitu : hipotensi ortostatik,peningkatan beban kerja jantung,dan pembentukan thrombus. · Hipotensi Ortostatik Adalah penurunan tekanan darah sitolik 25 mmhg dan diastolic 10 mmhg ketika klien bangun dari posisi berbaring atau duduk keposisi berdiri. · Perubahan Muskuloskeletal Pengaruh imobilisasi pada system musculoskeletal meliputi gangguan mobilisasi permanen keterbatasan imobilisasi mempengaruhi otot klien melalui daya tahan. Penurunan masa otot,atrofi dan penurunan stabilitas. Pengaruh lain dari keterbatasan mobilisasi yang mempengaruhi system skeletal adalah gangguan metabolism kalsium dan gangguan mobilisasi sendi. · Pengaruh Otot Akibat pemecahan protein.Klien mengalami kehilangan masa tubuh ,yang membentuk sebagian otot oleh karena itu,penurunan masa otot tidak mampu mempertahankan aktivitas tanpa peningkatan kelelahan. · Pengaruh Skelet Imobilisasi menyebabkan dua perubahan terhadap skelet:gangguan metabolism kalsium dan kelainan sendi.Karena imobilisasi berakibat pada resorbsi tulang,sehingga jaringan tulang menjadi kurang padat dan terjadi osteoporosis. · Kontraktur sendi Adalah kondisi abnormal dan biasa ditandai oleh sendi fleksi dan terfiksasi.Hal ini disebabkan tidak digunakanya ,atrofi dan pemendekan serat otot.Jika terjadi kontraktur maka sendi tidak dapat mempertahankan rrentan gerak dengan penuh.Sayangnya kontraktur sering menjadikan sendi pada posisi yang tidak berfungsi. · Perubahan Sistem integument Dekubitus terjadi akibat iskemia dn anaksia jaringan.Jarinagan yang tertekan ,darah membelok,dan konstriksi kuat pada pembuluh darah akibat tekanan persisten pada kulit dan sturktur dibawah kulit,sihingga respirasi selular terganggu,dan sel menjadi mati.Dekibitus adalah salah satu penyakit iatrogenic paling umum dala perawatan kesehatan dimana berpengaruh terhadap populasi klien khusus lansia dan imobilisasi. · Perubahan Eliminasi Urine Eliminasi urine klien berubah adanya imobilisasi.Pada posisi tegak lurus,urine mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk kedalam ureter dan kandung kemih akibat gravitasi. · Batu Ginjal Adalah batu kalsium yang terletak didalam pelvis ginjal dan melewati ureter.Klien imobilisasi berisiko terjadi pembentukan batu karena gangguan metabolisme kalsium dan akibat hiperkalsemia. N. Pengaruh psikologis dari imobilisasi Imobilisasi menyebabkan respon emosional,intelektual,sensori,dan sosikultural.Perubahan status emosional biasa terjadi bertahap.Bagaimanpun juga lansia lebih rentan terhadap perubahan-perubahan tersebut.Sehingga perawat harus mengobservasi lebih dini.Perubahan emosional paling umum adalah depresi,perubahan perilaku,perubahan siklus tidur bangun,dan gangguan koping.Perkembangan pertumbuhan terjadi pada: 1. Bayi Tulang belakang bayi baru lahir berkurangnya garis antero-posterior yang ada pada orang dewasa .Garis tulang belkang pertama kali muncul ketika bayi memanjangkan leher pada posisi prone.Sejalan dengan pertumbuhan dan peningkatan stabilitas,tulang belakang torakal menjadi tegak,dan garis tulang belakang lumbal muncul,sehingga memungkinkan duduk dan berdiri. 2. Todler Postur toddler agak bepunggung lentur dengan perut menonjol. 3. Anak usia pra sekolah atau sekolah Pada usia 3 tahun tubuh lebih ramping, lebih tinggi dan lebih baik keseimbangan.Perut yang menonjol lebih berkurang. 4. Remaja Tahap remaja biasa ditandai dengan pertumbuhan yang pesat pertumbuhan kadng tidak seimbang. 5. Dewasa Orang dewasa yang mempunyai postur dan kesejajaran tubuh yang benar merasa senang,terlihat bagus.Dan umumnya percaya diri. 6. Lansia Lansia kehilangan total massa tulang progresif terjadi pada lansia.Beberapa kemungkina untuk penyebab kehilangan ini meliputi aktivitas fisik ,perubahan hormonal ,dan resorbsi tulang actual.Pengaruh kehilangan tulang adalah tulang menjadi lebih lemah : tulang belakang lebih lunak dan tertekan ,tulang panjang kurang resisten untuk membungkuk. O.Prosedur memindahkan pasien A. Pengertian: Suatu kegiatan yang dilakuan pada klien dengan kelemahan kemampuan fungsional untuk berpindah dari tempat tidur ke kursi. B. Tujuan: 1. Melatih ototo skelet untuk mencegah kontraktur atau sindro disuse 2. Memberikan kenyamanan 3. Mempertahankan kontrol diri pasien 4. Memungkinkan pasien untuk bersosialisasi 5. Memudahkan perawat yang akan mengganti seprei (pada klien yang toleransi dengan kegiatan ini) 6. Memberikan aktifitas pertama (latihan pertama) pada klien yang tirah baring 7. Memindahkan pasien untuk pemeriksaan diagnostik. C. Langkah: 1. Ikuti protokol standar 2. Bantu klien ke posisi duduk di tepi tempat tidur. Buat posisi kursi pada sudut 45 derajat terhadap tempat tidur. Jika menggunakan kursi roda, yakinkan bahwa kurisi ini dalam posisi terkunci 3. Pasang sabuk pemindahan pila perlu, sesuai kebijakan lembaga 4. Yakinkan bahwa klien menggunakan sepatu yang satabil dan anti slip 5. Regangkan kedua kaki anda 6. Fleksikan panggul dan lutut anda, sejajarkan lutut anda dengan klien 7. Pegang sabuk pemindahan dari bawah atau gapai melalui aksila klien dan tempatkan tangan pada skapula klien 8. Angkat klien sampai berdiri pada hitungan 3 sambil meluruskan panggul andan dan kaki, pertahankan lutut agak fleksi 9. Pertahankan stabilitas kaki yang lemah atau sejajarkan dengan lutut anda 10. Berporos pada kaki yang lebih jauh dari kursi, pindahkan klien secara langsung ke depan kursi 11. Instruksikan klien untuk menggunakan penyangga tangan pada kursi untuk menyokong 12. Fleksikan panggul anda dan lutut saat menurunkan klien ke kursi 13. Kaji klien untuk kesejajaran yang tepat 14. Stabilkan tungkai dengan slimut mandi 15. Ucapkan terimakasih atas upaya klien dan puji klien untuk kemajuan dan penampilannya 16. Lengkapi akhir protokol Sumber; Perry, Peterson, Potter; Buku Saku Keterampilan dan Prosedur Dasar Azis Alimul Hidayat, S.Kp; Buku Saku Praktikum KDM P. Prosedur ROM 1. Definisi ROM (Range of Motion) Yaitu derajat untuk mengukur kemampuan suatu tulang, otot dan sendi dalam melakukan pergerakan ROM (Range of Motion) 2. Manfaat ROM bermanfaat untuk : a. Menentukan nilai kemampuan sendi tulang dan otot dalam melakukan pergerakan b. Mengkaji tulang sendi, otot c. Mencegah terjadinya kekakuan sendi d. Memperlancar sirkulasi darah 3. Macam-macam ROM - ROM tulang leher: • Sentuhlah dagu ke dada • Lihat arah langit-langit • Sentuhlah telinga ke masing-masing bahu • Sentuhlah dahu ke masinng-masung bahu - ROM tulang lumbal • Sentuhlah kaki dengan jari-jari tangan • Rentangkan ke arah belakang dengan lambat • Rentangkan ke arah kiri dengan kanan • Putar bahu ke arah kanan dan kiri - ROM bahu • Lengan lurus dengan badan gerakan ke atas • Lengan lurus digerakkan ke arah belakang • Gerakkan tangan kondisi lurus ke atas ke arah luar • Gerakkan tangan kondisi lurus ke badan - ROM siku • Sentuhlah tangan ke bahu • Luruskan siku - ROM tangan • Bengkokan tangan ke arah baawh • Bengkokan tangan ke arah atas • Bengkokan tangan ke arah luar (kelingking) • Bengkokoan tangan ke ibu jari - ROM panggul klien dalam posisi berbaring • Tekuk lutut gerakkan ke arah dada • Pertahankan kaki lurus gerakkan menjauhi dada • Tengkurp, kaki diangkat - ROM lutut • Bengkokan lutut • Luruskan lutut - ROM angkle • Gerakkan kaki ke atas • Gerakkan kaki menuju lantai • Berjalan dengan sisi luar kaki • Berjalan dengan jari-jari kaki 4. Latihan Isometri 1. Berbaring terlentang/dengan posisi duduk dengan diperluas, tekankan lutut kebawah, menekan permukaan tempat tidur. 2. Posisi badan terlentang, usahakan tarik perut ke dalam atau mengempiskan perut 3. Tekan telapak kaki kelantai selagi duduk dengan lutut sedikit difleksi 4. Kepalkan tangan dengan kuat bisa juga meremas bola karet kecil 5. Pegang ke-2 tangan di depan dada kemudian tarik masing-masing keuar 6. Dengan posisi terlentang kemudian tekan telapak tangan ke bawah ke arah permukaan matras. Sumber : http://wikimedya.blogspot.com Q. Pengaturan posisi klien 1. Posisi Fowler Posisi fowler adalah posisi setengah duduk a.tau duduk, di mana bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikan. Posisi ini dilakukan untuk mempertahankan kenyamanan dan memfasilitasi fungsi pernapasan pasien. Tujuan : a. Mobilisasi b. Memberikan perasaan nyaman pada pasien yang sesak napas c. Memudahkan perawatan misal memberi makan. Pelaksanaan : a. Pasien sesak napas b. Pasien pasca operasi struma, hidung. Cara: 1. Dudukkan pasien 2. Berikan sandaran pada tempat tidur pasien atau atur tempat tidur, untuk posisi semifowler (30-45 derajat) dan untuk fowler (90 derajat) 3. Anjurkan pasien untuk tetap berbaring setengah duduk 2. Posisi Sim Posisi sim adalah posisi miring ke kanan atau miring ke kiri. Posisi ini dilakukan untuk memberi kenyamanan dan memberikan obat per anus (supositoria). Pelaksanaan : a. Pada pasien dengan pemeriksaan rectal b. Memberikan huknah, injeksi IM di otot gluteus maximus dll Cara: 1. Pasien dalam keadaan berbaring, kemudian miringkan ke kiri dengan posisi badan setengah telungkup dan kaki kiri lurus lutut. Paha kanan ditekuk diarahkan ke dada 2. Tangan kiri diatas kcpala atau di belakang punggung dan tangan kanan di atas tempat tidur 3. Bila pasien miring ke kanan dengan posisi badan setengah telungkup dan kaki kanan lurus, lutut, dan paha kiri ditekuk diarahkan ke dada 4. Tangan kanan di atas kepala atau di belakang punggung dan tangan kiri di atas tempat tidur 3. Posisi Trendelenburg posisi pasiom berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah daripada bagian kaki. Posisi ini dilakukan untuk mdancarkan perdaran darah ke otak. Tujuan : a. Supaya darah lebih banyak mengalir kedaerah kepala b. Memudahkan operasi di daerah perut Pelaksanaan : a. Pada pasien syok b. Tekanan darah rendah c. Pasien dengan pemeriksaan tertentu misal broncoscopy Cara: 1. Pasien dalam keadaan berbaring telentang, letakan bantal di antara kepala dan ujung tempati tidur pasien, dan berikan bantal dibawah lipatan lutut. 2. Berikan balok penopang pada bagian kaki tempat tidur atau atur tempat tidur khusus dcngan meninggikan bagian kaki pasien. 4. Posisi Dorsal Recumbent Pada posisi ini pasien berbaring tele;ntang dengan kedua lutut ficksi (ditarik atau direnggangkan) di atas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk merawat dan memc;riksa genitalia scrta proses persalinan. Dilaksanakan pada pasien dengan pemeriksaan ginecology, pemeriksaan genitalia, pelaksanaan perasat pasang kateter, vulva hygiene. Cara: 1. Pasien dalam keadaan berbaring telentang, pakaian bawah di buka 2. Tekuk lutut, renggangkan paha, telapak kaki menghadap ke tempat tidur dan renggangkan kedua kaki. 3. Pasang selimut 5. Posisi Litotomi Posisi berbaring telentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya ke atas bagian perut. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa genitalia pada proses persalinan, dan memasang alat kontrasepsi. Cara: 1. Pasien dalam kcadaan berbaring telentang, kemudian angkat kedua paha dan tarik ke arah perut 2. Tungkai bawah membentuk sudut 90 derajat terhadap paha 3. Letakkan bagian lutut/kaki pada tempat tidur khusus untuk posisi lithotomic 4. Pasang selimut 6. Posisi Genu Pectoral/knee cees Pada posisi ini pasien menungging dengan kcdua kaki ditekuk dan dada menempel pada bagian alas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk mcmcriksa daerah rektum dan sigmoid. Cara: 1. Anjurkan pasien untuk posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada mencmpel pada kasur tempat tidur. 2. Pasang selimut pada pasien. R. Prosedur penggunaan alat bantu aktivitas KRUK Kruk adalah alat bantu yang terbuat dari logam atau pun kayu dengan panjang yang cukup untuk diraih dari axilla sampai ke tanahatau lantai. Kruk memiliki permukaan cekung yang disesuaikan di bawah lengan dan sebuah balok melintang untuk tangan untuk menyangga berat badan. Jenis-jenis Kruk Pada dasarnya kruk dibagi dua yaitu kruk axilla dan kruk nonaxilla. Kruk nonaxilla dapat mentransfer 40-50% berat badan, sedangkan kruk axilla dapat mentransfer sampai 80% berat badan. Hal ini membuat kruk axilla lebih baik dalam menopang badan. Kruk axilla memiliki dua bidang tegak lurus yaitu penopang bahu dan pegangan tangan. Kruk tersedia dalam berbagai ukuran berbeda. Extension crutch pada kruk merupakan tambahan agar panjang kruk dapat disesuaikan, sehingga berguna pada anak-anak yang dalam proses pertumbuhan agar dapat disesuaikan dengan perubahan tinggi anak. Selain itu berguna di rumah sakit agar dapat digunakan oleh banyak orang. “Kruk ortho” memiliki penyangga bahu yang berkontur dan pegangan tangan yang dapat disesuaikan, sehingga lebih nyaman dalam penggunaannya. WALKER Walker adalah salah satu alat bantu berjalan yang kerangkanya terbuat dari bahan logam. Alat ini dilengkapi dengan dua gagang yang berfungsi sebagai tempat yang penggunaannya digunakan sebagai tempat pegangan serta menggunakan empat kaki sebagai penumpunya. Salah satu jenis walker adalah standar walker. Standar walker Walker jenis ini biasanya digunakan untuk orang tua yang masih kuat mengangkat alat ini untuk berjalan, biasanya orang yang menggunakan alat ini membutuhkan bantuan dari orang lain. TEHNIK LATIHAN DENGAN ALAT BANTU Tehnik latihan jalan dengan alat bantu dapat dilakukan dengan berbagai tipe, diantaranya adalah : Full Weight Bearing ( FWB) : tehnik jalan dng cara tungkai(LE) menyangga penuh berat badan/diberi beban penuh. Tanpa alat bantu. Partial Weight Bearing (PWB) : tehnik jalan dng cara tungkai (LE) menyangga sebagian dari BB/ diberi beban sebagian pakai alat bantu. Non Weight Bearing (NWB) : tehnik jalan dng cara tungkai (LE) tidak menyangga BB/ tanpa beban. Jenis-jenis alat bantu yang dipakai di antaranya: v WALKER v AXILLA KRUK v CANADIAN KRUK v TRIPOD / QUADRIPOD v STICK MANFAAT PENGGUNAAN ALAT BANTU BERJALAN PASIEN Memelihara dan mengembalikan fungsi otot. Mencegah kelainan bentuk, seperti kaki menjadi bengkok. Memelihara dan meningkatkan kekuatan otot. Mencegah komplikasi, seperti otot mengecil dan kekakuan sendi. UNIVERSAL PRECAOTION Kewaspadaan Universal (Universal Precaution) adalah kewaspadaan terhadap darah dan cairan tubuh yang tidak membedakan perlakuan terhadap setiap pasien, dan tidak tergantung pada diagnosis penyakitnya (kamus-medis) Cara agar petugas perawatan kesehatan dapat menghindari infeksi dari infeksi yang diangkut aliran darah, seperti HIV atau hepatitis B dan C. S.Sterilisasi alat Sterilisasi adalah setiap proses baik fisika, kimia dan mekanik yang membunuh semua bentuk kehidupan terutama mikroorganisme atau usaha untuk membebaskan alat dan bahan dari seala bentuk kehidupan terutama mikrobia. Suatu alat atau bahan dikatakan steril apabila alat atau bahan tersebut bebas dari mikrobia, baik dalam bentuk veetatif ataupun spora. Suatu benda atau substansi hanya dapat dikatakan steril atau tidak steril, tidak akan pernah munkin ada setengah steril atau hamper steril. Untuk sterilisasi alat dan medium diunakan sterilisasi dengan mengunakan alat yang disebut autoclave. Autoclaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan medium kultur jaringan tumbuhan denan mengunakan tekanan 15 psi (1,02 atm) dan suhu 121°C . Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media kultur jarinan tumbuhan yang disterilkan memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibandingkan dengan udara panas. Biasanya untuk mensterilkan media diunakan suhu 121°C dan tekanan 15 lb/in² (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. Alasan digunakan 121°C atau 249,8°F adalah karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada suhu 100°C, sedangkan untuk autoclave yan diletakkan pada ketingian yang sama, mengunakan tekanan 15 psi maka air akan mendidih pada suhu 121°C. Kejadian ini hanya berlaku untuk sea level, jika dilaboratorium yang terletak pada ketinggian tertentu, maka pengaturan tekanan perlu diseting ulang. Misalnya autoclave diletakkan pada ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai suhu 121°C untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu 121°C dan tekanan 15 psi selama 15 menit. T. Pemakaian APD adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja. APD dipakai sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa (engineering) dan administratif tidak dapat dilakukan dengan baik. Namun pemakaian APD bukanlah pengganti dari kedua usaha tersebut, namun sebagai usaha akhir TOPI PENGAMAN Untuk penggunaan yang bersifat umum dan pengaman dari tegangan listrik yang terbatas. Tahan terhadap tegangan listrik tinggi.Tanpa perlindungan terhadap tenaga listrik,biasanya terbuat dari logam yang digunakan untuk pemadam kebakaran. APD RESPIRATOR dan KACAMATA Mudah dikenakan. Cocok untuk kasus berisiko kecil dan menengah. ALAT PELINDUNG MUKA DAN MATA ( FACE SHIELD ) Fungsi: 1. Melindungi muka dan mata dari: 2. Lemparan benda – benda kecil. 3. Lemparan benda-benda panas. 4. Pengaruh cahaya. 5. Pengaruh radiasi tertentu. ALAT PELINDUNG TELINGA (ear protector) Sumbat Telinga Sumbat telinga yang baik adalah menahan frekuensi tertentu saja,sedangkan frekuensi untuk bicara biasanya (komunikasi) tak terganggu. Kelemahan: tidak tepat ukurannya dengan lobang telinga pemakai, kadang-kadang lobang telinga kanan tak sama dengan yang kiri Bahan sumbat telinga Karet, plastik keras, plastik yang lunak, lilin, kapas. Yang disenangi adalah jenis karet dan plastic lunak,karena bisa menyusaikan bentuk dengan lobang telinga. Daya atenuasi (daya lindung) : 25-30 dB Ada kebocoran dapat mengurangi atenuasi + 15 dB Dari lilin : - bisa lilin murni - dilapisi kertas - kapas RUANG LINGKUP KEBUTUHAN KESELAMATAN dan KEAMANAN Keselamatan Fisik Mempertahankan keselamatan fisik melibatkan keadaan mengurangi atau mengeluarkan ancaman pada tubuh dan kehidupan. Ancaman tersebut mungkin dapat berupa penyakit, kecelakaan, bahaya atau pemajanan pada lingkungan. Seorang klien mungkin rentan terhadap komplikasi seperti infeksi oleh karena itu bergantung pada profesional dalam sistem pelayanan kesehatan untuk perlindungan. Memenuhi kebutuhan keselamatan fisik kadang mengambil prioritas terlebih dahulu di atas pemenuhan kebutuhan fisiologis. Misal : Seorang perawat mungkin perlu melindungi klien dari kemungkinan terjatuh sebelum memberikan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Keselamatan Psikologis Untuk aman dan selamat secara psikologis, seorang manusia harus memahami apa yang diharapkan dari orang lain. Seseorang harus juga memahami apa yang diharapkan prosedur, pengalaman yang baru dan yang tidak dikenal. Dalam beberapa kasus, orang secara umum tidak secara langsung menyatakan bahwa keselamatan psikologis mereka terancam, tetapi dari pembicaraan mereka bisa secara tidak langsung memperlihatkan perasaan mereka. Klien yang sakit atau cacat lebih rentan untuk terancam kesejahteraan fisik dan emosinya sehingga intervensi yang dilakukan perawat adalah untuk membantu melindungi mereka dari bahaya. Kebutuhan keselamatan dan rasa aman merupakan prioritas berikutnya setelah kebutuhan fisiologis klien . Merupakan kebutuhan untuk melindungi diri dari berbagai bahaya yang mengancam, baik terhadap fisik maupun psikososial . Ancaman tersebut dapat dikategorikan kedalam ancaman fisik dan ancaman psikososial . Kebutuhan keselamatan dan keamanan berkenaan dengan konteks fisiologis dan hubungan interpersonal. Dalam konteks secara fisiologis, berhubungan dengan sesuatu yang mengancam tubuh seseorang dan kehidupannya , ancaman bisa nyata atau hanya imajinasi, misalnya penyakit, nyeri, cemas, dsb. Terkadang klien kurang menyadari bahaya yang dapat mengancam di RS atau tempat pelayanan kesehatan lainnya. Kesadaran perawat dibutuhkan untuk menangani situasi yang mungkin dapat membuat klien cidera. Perlindungan terhadap klien bukan hanya mencegah terjadinya kecelakaan tetapi juga memelihara postur tubuh klien selama dirawat serta menjaga kebersihan dan kesehatan kulit klien Dalam konteks hubungan interpersonal, keselamatan dan keamanan seseorang bergantung pada banyak faktor diantaranya : • Kemampuan berkomunikasi • Kemampuan untuk mengontrol dan mengatasi masalah • Kemampuan untuk mengerti • Kemampuan untuk konsisten menjaga tingkah laku yang berhubungan dengan orang lain • Mengenal orang-orang disekitarnya dan lingkungannya Ketidaktahuan akan sesuatu atau ketidakpastian akan membuat perasaan cemas dan tidak aman KONSEP KENYAMANAN PENGERTIAN NYERI Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subjectif karena perasaanya nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya dan hanya orang tersebut yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang di alaminya Pendapat beberapa ahli mengenai pengertian nyeri : · Arthur c. Curton 1983, mengatakan bahwa nyeri merupakan suatu mekanis produksi bagi tubuh timbul ketika jaringan sedang di rusak, dan menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan rangsangan nyeri KLASIFIKASI NYERI secara umum di bagi menjadi 2, yaitu: 1. nyeri akut adalah nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat menghilang, yang tidak melebihi 6 bulan yang di tandai adanya peningkatan tegangan otot. 2. Nyeri kroni adalah nyeri yang timbul secara perlahan lahan biasanya berlangsung dalam waktu cukup lama yaitu melebihi dari 6 bula A.KONSEP NYERI 1. penyalahgunaan obat dan alkohol akan bereaksi berlebihan terhadap kenyamanan 2. klien yang mengalami penyakit ringan dengan memiliki nyeri yang lebih sedikit dari pada orang yang memiliki gangguan fisik yang berat 3. pemberian anal gesik secara teratur akan mengarah pada ketergantungan obat 4. jumlah kerusakan jaringan pada suatu cidera menunjukkan secara akurat intensitas nyeri B.PENGKAJIAN NYERI Komponen pengkajian nyeri : riwayat nyeri dan obserfasi langsung. · Lokasi : nyeri superfisial biasanya dapat secara akurat ditunjukan oleh klien, sedangkan nyeri yang timbul dari bagian dalam lebih dirasakan secara umum.nyeri dapat pula dijelaskan menjadi 4 kategori yang berhubungan dengan lokas: a) Nyeri terlokalisir : jelas terlihat pada area asalnya. b) Nyeri terproyeksi : sepanjang saraf atau serabut saraf spesifik. c) Nyeri radiasi d) Nyeri alih ( refferet pain ) · Intensitas. Beberapa faktor yang mempengaruhi nyeri : a) Distraksi / konsentrasi dari klien pada suatu kejadian b) Status kesadaran klien. c) Harapan klien. Nyeri dapat berupa: ringan, sedang, berat / tak tertahankan. · Waktu dan lama ( time and duration ) Perawat perlu mencatat kapan nyeri timbul, berapa lama, bagaimana timbulnya dan juga tanpa nyeri dan kapan nyeri terakhir timbul. · Kualitas Mengkomunikasikan kualitas dari nyeri. Menganjurkan klien megunakan bahasa yang dia ketahui. · Perilaku non verbal Ekspresi wajah, gemeretak gigi, menggigit bibir bawah, · Faktor lain Beberapa faktor lain yang akan meningkatkan nyeri: lingkungan, suhu ekstrim, kegiatan yang tiba tiba, stres, dan emosi. arti nyeri pada seseorang pada seseorang memiliki banyak perbedaan dan hampir sebagian arti nyeri merupakan yang negatif seperti membahayakan, merusak, dll. Keadaan ini di pengarui oleh berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, latar belakang sosial budaya, lingkungan dan pengalaman C.MANAGEMEN NYERI a) farmakologi farmakologi di lakukan dengan memberikan obat obatan anti nyeri b) Non farmakologi 1. Akupuntur (pengobatan tradisional ala cina memakai jarum) 2. Kompres dingin 3. Kompres panas 4. Pemijatan 5. Bantalan es 6. Ala pijat elektronik 7. Relaksasi otot secara progesif 8. Relaksasi 9. Yoga 10. Counterirritant
Read more...

Rabu, 08 Januari 2014

TREND & ISSUE KEPERAWATAN

| | 0 komentar

PENGERTIAN A. Definisi Trend Trend adalah hal yang sangat mendasar dalam berbagai pendekatan analisa, tren juga dapat di definisikan salah satu gambaran ataupun informasi yang terjadi pada saat ini yang biasanya sedang popular di kalangan masyarakat. Trend adalah sesuatu yang sedang di bicarakan oleh banyak orang saat ini dan kejadiannya berdasarkan fakta B. Definisi Issu. Issu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi pada masa mendatang, yang menyangkut ekonomi, moneter, sosial, politik, hukum, pembangunan nasional, bencana alam, hari kiamat, kematian, ataupun tentang krisis. Issu adalah sesuatu yang sedang di bicarakan oleh banyak namun belum jelas faktannya atau buktinya C. Definisi Trend dan Issu Keperawatan Trend dan Issu Keperawatan adalah sesuatu yang sedang d.bicarakan banyak orang tentang praktek/mengenai keperawatan baik itu berdasarkan fakta ataupun tidak, trend dan issu keperawatan tentunya menyangkut tentang aspek legal dan etis keperawatan. Saat ini trend dan issu keperawatan yang sedang banynak dibicarakan orang adalah Aborsi, Eutanasia dan Transplantasi organ manusia, tentunya semua issu tersebut menyangkut keterkaitan dengan aspek legal dan etis dalam keperawatan.   Salah satu contoh trend an issue keperawatan ABORTUS A. Definisi Aborsi Abortus adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran prematur. Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah “abortus” adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia 20 minggu kehamilan atau berat bayi kurang dari 500 g(ketika janin belum dapat hidup di luar kandungan). Angka kejadian aborsi meningkat denganbertambahnya usia dan terdapatnya riwayat aborsi sebelumnya. Proses abortus dapat berlangsung secara : Ø Spontan / alamiah (terjadi secara alami, tanpa tindakan apapun) Ø Buatan / sengaja (aborsi yang dilakukan secara sengaja), Ø Terapeutik / medis (aborsi yang dilakukan atas indikasi medik karena terdapatnya suatupermasalahan atau komplikasi). 1. Penyebab Aborsi Penyebab abortus spontan bervariasi meliputi infeksi, faktor hormonal, kelainan bentuk rahim,faktor imunologi (kekebalan tubuh), dan penyakit dari ibu. Penyebab abortus pada umumnya terbagi atas faktor janin dan faktor ibu : a. Faktor Janin Pada umumnya abortus spontan yang terjadi karena faktor janin disebabkan karena terdapatnyakelainan pada perkembangan janin [seperti kelainan kromosom (genetik)], gangguan pada ari-ari maupun kecelakaan pada janin. Frekuensi terjadinya kelainan kromosom (genetik) pada triwulanpertama berkisar sebesar 60%. b. Faktor Ibu Beberapa hal yang berkaitan dengan faktor ibu yang dapat menyebabkan abortus spontan adalahfaktor genetik orangtua yang berperan sebagai carrier (pembawa) di dalam kelainan genetik;infeksi pada kehamilan seperti herpes simpleks virus, cytomegalovirus, sifilis, gonorrhea;kelainan hormonal seperti hipertiroid, kencing manis yang tidak terkontrol; kelainan jantung;kelainan bawaan dari rahim, seperti rahimbikornu(rahim yang bertanduk), rahim yang bersepta(memiliki selaput pembatas di dalamnya) maupun parut rahim akibat riwayat kuret atau operasirahim sebelumnya.Miomapada rahim juga berkaitan dengan angka kejadian aborsi spontan. Selain itu, ada beberapa diantara orang tua yang tidak menginginkan kehadiran janin tersebut dengan alasan yang bervariasi. B. Faktor Risiko Aborsi Faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya abortus adalah : Ø Usia ibu yang lanjut Ø Riwayat kehamilan sebelumnya yang kurang baik Ø Riwayat infertilitas (tidak memiliki anak) Ø Adanya kelainan atau penyakit yang menyertai kehamilan Ø Infeksi (cacar, toxoplasma, dll) Ø Paparan dengan berbagai macam zat kimia (rokok, obat-obatab, alkohol, radiasi) Ø Trauma pada perut atau panggul pada 3 bulan pertama kehamilan8. Kelainan kromosom(genetik) Pergaulan seks bebas C. Tanda dan Gejala Aborsi secara Alamiah Ø Nyeri perut bagian bawah Ø Keram pada rahim Ø Nyeri pada punggung Ø Perdarahan dari kemaluan Ø Pembukaan leher rahim Ø Pengeluaran janin dari dalam rahim EUTHANASIA Membunuh bisa dilakukan secara legal. Itulah euthanasia, pembuhuhan legal yang sampai kini masih jadi kontroversi. Pembunuhan legal ini pun ada beragam jenisnya. Secara umum, kematian adalah suatu topik yang sangat ditakuti oleh publik. Hal demikian tidak terjadi di dalam dunia kedokteran atau kesehatan. Dalam konteks kesehatan modern, kematian tidaklah selalu menjadi sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Kematian dapat dilegalisir menjadi sesuatu yang definit dan dapat dipastikan tanggal kejadiannya. Euthanasia memungkinkan hal tersebut terjadi. Euthanasia adalah tindakan mengakhiri hidup seorang individu secara tidak menyakitkan, ketika tindakan tersebut dapat dikatakan sebagai bantuan untuk meringankan penderitaan dari individu yang akan mengakhiri hidupnya. Ada empat metode euthanasia: Euthanasia sukarela: ini dilakukan oleh individu yang secara sadar menginginkan kematian. Euthanasia non sukarela: ini terjadi ketika individu tidak mampu untuk menyetujui karena faktor umur, ketidak mampuan fisik dan mental. Sebagai contoh dari kasus ini adalah menghentikan bantuan makanan dan minuman untuk pasien yang berada di dalam keadaan vegetatif (koma). Euthanasia tidak sukarela: ini terjadi ketika pasien yang sedang sekarat dapat ditanyakan persetujuan, namun hal ini tidak dilakukan. Kasus serupa dapat terjadi ketika permintaan untuk melanjutkan perawatan ditolak. Bantuan bunuh diri: ini sering diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk euthanasia. Hal ini terjadi ketika seorang individu diberikan informasi dan wacana untuk membunuh dirinya sendiri. Pihak ketiga dapat dilibatkan, namun tidak harus hadir dalam aksi bunuh diri tersebut. Jika dokter terlibat dalam euthanasia tipe ini, biasanya disebut sebagai ‘bunuh diri atas pertolongan dokter’. Di Amerika Serikat, kasus ini pernah dilakukan oleh dr. Jack Kevorkian. Euthanasia dapat menjadi aktif atau pasif: Euthanasia aktif menjabarkan kasus ketika suatu tindakan dilakukan dengan tujuan untuk menimbulkan kematian. Contoh dari kasus ini adalah memberikan suntik mati. Hal ini ilegal di Britania Raya dan Indonesia. Euthanasia pasif menjabarkan kasus ketika kematian diakibatkan oleh penghentian tindakan medis. Contoh dari kasus ini adalah penghentian pemberian nutrisi, air, dan ventilator Tren dan issue keperawatan Trend Keperawatan Medikal Bedah dan Implikasinya di Indonesia Perkembangan trend keperawatan medikal bedah di Indonesia terjadi dalam berbagai bidang yang meliputi: A.Definisi a. Telenursing (Pelayanan Asuhan Keperawatan Jarak Jauh) Menurut Martono, telenursing (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) adalah upaya penggunaan tehnologi informasi dalam memberikan pelayanan keperawatan dalam bagian pelayanan kesehatan dimana ada jarak secara fisik yang jauh antara perawat dan pasien, atau antara beberapa perawat. Keuntungan dari teknologi ini yaitu mengurangi biaya kesehatan, jangkauan tanpa batas akan layanan kesehatan, mengurangi kunjungan dan masa hari rawat, meningkatkan pelayanan pasien sakit kronis, mengembangkan model pendidikan keperawatan berbasis multimedia (Britton, Keehner, Still & Walden 1999). Tetapi sistem ini justru akan mengurangi intensitas interaksi antara perawat dan klien dalam menjalin hubungan terapieutik sehingga konsep perawatan secara holistik akan sedikit tersentuh oleh ners. Sistem ini baru diterapkan dibeberapa rumah sakit di Indonesia, seperti di Rumah Sakit Internasional. Hal ini disebabkan karena kurang meratanya penguasaan teknik informasi oleh tenaga keperawatan serta sarana prasarana yang masih belum memadai. b.Definisi : b.1. Telenursing (pelayanan Asuhan keperawatan jarak jauh) adalah penggunaan tehnologi komunikasi dalam keperawatan untuk memenuhi asuhan keperawatan kepada klien. Yang menggunakan saluran elektromagnetik (gelombang magnetik, radio dan optik) dalam menstransmisikan signal komunikasi suara, data dan video. Atau dapat pula di definisikan sebagai komunikasi jarak jauh, menggunakan transmisi elektrik dan optik, antar manusia dan atau komputer 4) b.2 Telenursing (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) adalah upaya penggunaan tehnologi informasi dalam memberikan pelayanan keperawatan dalam bagian pelayanan kesehatan dimana ada jarak secara fisik yang jauh antara perawat dan pasien, atau antara beberapa perawat. Sebagai bagian dari telehealth, dan beberapa bagian terkait dengan aplikasi bidang medis dan non-medis, seperti telediagnosis, telekonsultasi dan telemonitoring. 5) b.3. Telenursing is defined as the practice of nursing over distance using telecommunications technology (National Council of State Boards of Nursing). 6) b.4. Telenursing diartikan sebagai pemakaian telekomunikasi untuk memberikan informasi dan pelayanan keperawatan jarak-jauh. Aplikasinya saat ini, menggunakan teknologi satelit untuk menyiarkan konsultasi antara fasilitas-fasilitas kesehatan di dua negara dan memakai peralatan video conference (bagian integral dari telemedicine atau telehealth)7) ISSUE DAN TREN KEPERAWATAN MATERNITAS ASUHAN KEPERAWATAN PADA MASA POST PARTUM / NIFAS Pengertian •Nifas / puerperium: periode waktu / masa dimana organ-organ reproduksi kembali ke keadaan sebelum hamil. • Dimulai setelah kelahiran placenta, berakhir saat alat kandungan kembali ke keadaan sebelum hamil. Sekitar 6 minggu • Involusi: proses perubahan organ repro. • Masa nifas normal: involusi uterus, pengeluaran lokia, pengeluaran ASI dan perubahan sistem tubuh termasuk keadaan psikologis normal. Periode nifas, dibagi 3: 1. Immediate puerperium (Segera setelah persalinan sampai 24 jam setelah persalinan.) 2. Early puerperium (1 hari – 7 hari setelah melahirkan.) 3. Later puerperium (Waktu 1 minggu – 6 minggu setelah melahirkan.) Perubahan / adaptasi masa nifas : • Involusi uterus dan pengeluaran lochea. • Perubahan fisik • Lactasi • Perubahan sistem tubuh • Perubahan psikologis Perubahan fisik dan fisiologis : • Uterus • Lochea • Serviks • Vulva dan vagina • Perineum • Kembalinya ovulasi dan menstruasi • Dinding perut dan peritonium • Laktasi • Sistem gastrointestinal • Traktus urinarius • Sistem kardiovaskuler • Tanda vital • Darah • Berat badan • Menggigil • Post partum • Diaphoresis • Afterpains Involusi disebabkan oleh : • Iskemia : Kontraksi dan retraksi serabut otot uterus yang terjadi terus-menerus → kompresi pembuluh darah dan anemia setempat. • Otolisis : Sitoplasma sel yang berlebih akan tercerna sendiri. • Atrofi : Jaringan yang berproliferasi dengan adanya estrogen jumlah besar → atrofi karena penghentian estrogen. Bekas luka plasenta → sembuh dalam 6 minggu • Perlambatan – disebut sub involusio – gejala : • Lochea menetap / merah segar • Penurunan fundus uteri lambat • Tonus uteri lembek • Tidak ada perasaan mules. • Segera setelah persalinan – perlu pengawasan • Jam I : tiap 15 menit • Jam II : tiap 30 menit • Jam III – IV : 2x • Selanjutnya : tiap 8 jam Pengeluaran Lokia (Lochea) Lochea : sekret yang berasal dari kavum uteru dan vagina dalam masa nifas Jenis : • Lochea rubra / lochea kruenta : Keluar pada hari 1-3 Warna merah, hitam T.a : darah bercampur sisa-sisa selaput ketuban, sel desidua, sisa verniks c, lanugo dan mekonium. • Lochea sanguinolenta : Keluar hari 3-7 Darah bercampur lendir • Lochea serosa : Keluar hari 7-14 Warna kekuningan • Loceha alba : Keluar setelah hari 14 Warna putih Bau lokia agak amis → bau busuk : infeksi Lokiostasis (lokia tidak lancar keluar) Perubahan Fisik Serviks : menutup • Segera setelah lahir – tangan pemeriksa masih dapat masuk kavum uteri. • 2 jam setelah bayi lahir : dapat dimasukkan 2-3 jari • 1 minggu : masuk 1 jari • Setelah 1 minggu : serviks menutup. Vulva dan vagina : Mula-mula kendor, setelah 3 minggu kembali ke kondisi sebelum hamil dan rugae vagina mulai muncul, labia lebih menonjol. Himen – ruptur → karunkulae mirtiformis Perineum : Mula-mula kendor karena teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju saat persalinan. Setelah 5 hari tonus mulai kembali tetapi tidak sekencang sebelum hamil. Kembalinya ovulasi dan menstruasi : • Pada ibu yang menyusui : menstruasi akan terjadi sekitar minggu ke 6-8 pp. • Ibu menyusui : 45% menstruasi setelah 12 mg dan akan terjadi menstruasi anovulatory 1 x atau lebih (80% ibu menyusui) → terjadi infertilitas. Dinding perut dan peritonium Karena regangan menjadi kendor, termasuk ligamen-ligamen – ligamen rotundum – sehingga kadang-kadang menyebabkan uterus jatuh kebelakang → perlu latihan untuk mengembalikan tonus, dapat dilakukan setelah hari II PP. Payudara – lactasi Mencapai maturitas penuh selama masa nifas kecuali jika lactasi disupresi. Payudara → lebih besar, lebih kencang dan mula-mula nyeri tekan sebagai reaksi terhadap eprubahan status hormonal dan dimulainya lactasi. Perubahan-perubahan payudara → lactasi : → hamil • Proliferasi jaringan – untuk kelenjar-kelenjar dan alveolus mamma, lemak. • Pada ductus lactiferus terdapat cairan yang kadang-kadang dapat dikeluarkan berwarna kuning (colostrum) • Hipervaskularisasi – terdapat pada permukaan dan bagian dalam mamma. Perubahan Sistem Tubuh Sistem Gastrointestinal : • Pada awal klien merasa lapar • Kadang diperlukan waktu 3-4 hari – faat usus N • Rangsang BAB secara normal terjadi 2-3 hari → karena kemampuan asupan makanan menurunkan gerakan tubuh berkurang, pengosongan usus sebelum melahirkan (lavemen), rasa sakit di daerah perineum. Traktus Urinarius : Pada 24 jam setelah lahir kadang terjadi kesulitan BAK karena spasme sfinkter dan edema pada VU karena kompresi antara kepala janin dan os pubis selama persalinan Urin dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam PP → pengaruh hormon estrogen menurunkan diuresis Sistem Kardiovaskuler : • Volume darah kembali ke keadaan tidak hamil • Jumlah sel darah merah dan kadar Hb kembali normal pada hari ke-5. • Terjadi penurunan cardiac output dan akan kembali normal dalam 2-3 minggu. Perubahan Lain Tanda Vital : Suhu : • Suhu ♀ inpartu tidak lebih 37,2ºC • PP tidak naik ± 0,5ºC dari keadaan normal tapi tidak lebih dari 38,0ºC → infeksi (>). • Normal setelah 12 jam PP Nadi : • Berkisar 60-80 x/mnt. Setera setelah melahirkan dapat terjadi bradikardi. Masa nifas umumnya nadi lebih dari suhu • Kadang terjadi hipertensi post partum → hilang setelah 2 bulan. Berat badan • Segera setelah melahirkan BB turun 5-6 kg karena pengeluaran bayi, plasenta, air ketuban. • Masa nifas dini BB menurun ± 2,5 kg, karena puerpera diuresis. • 6-8 mg PP BB akan normal Afterpains (mules setelah persalinan) • terjadi selama 2-3 hari PP • karena kontraksi uterus, nyeri bertambah pada saat menyusui. • Nyeri timbul bila masih terdapat sisa-sisa selaput ketuban, sisa plasenta atau gumpalan darah dalam kavum uteri. Perubahan Psikologis • Karena adanya perubahan hormonal, terkurasnya cadangan fisik untuk hamil dan melahirkan, keadaan kurang tidur, lingkungan yang asing, kecemasan akan bayi, suami atau anak yang lain. • Setelah bayi lahir → masa transisi bayi + orangtua untuk membin hubungan. Masa transisi yang harus diperhatikan pada masa PP : • Phase honeymoon Phase setelah anak lahir, terjadi intimasi dan kontak yang lama antara ibu – ayah – anak → “psikis honeymoon” masing-masing saling memperhatikan anaknya dan menciptakan hubungan yang baru. • Bonding and Attachment (ikatan kasih) Terjadi pada kala IV, diadakan kontak antara ibu – ayah – anak dan tetap dalam ikatan kasih. Partisipasi suami dalam proses persalinan merupakan salah satu upaya untuk proses ikatan kasih. • Phase pada masa nifas Rubin (1963), mengidentifikasi 3 tahap perilaku ♀ ketika beradaptasi dengan perannya: o Phase “Taking In” o Phase “Taking Hold” o Phase “Letting Go” o Phase “Taking In” Perhatikan ibu tempat terhadap kebutuhan dirinya – minta diperhatikan – pasif dan ketergantungan, tidak ingin kontak dengan bayi tapi bukan berarti tidak memperhatikan. Menginginkan informasi tentang bayi, mengenang pengalaman melahirkan. Berlangsung 1-2 hari Bufas perlu istirahat, makan, minum adekuat. o Phase “Taking Hold” Ibu berusaha mandiri berinisiatif, penyesuaian fungsi tubuh, mulai duduk, jalan, belajar tentang perawatan dirinya dan bayi, timbul rasa kurang PD. Berlangsung ± 10 hari. oPhase “Letting Go” Ibu merasakan bahwa bayinya terpisah dari dirinya, mempunyai peran dan tanggung jawab baru, terjadi peningkatan dalam perawatan diri dan bayinya, penyesuaian dalam hubungan keluarga. Masalah kesehatan jika yang sering dialami pada ibu PP • Murung pasca melahirkan (post partum blues) Sering dimanifestasikan pada hari ketiga atau ke 4, memuncak pada hari ke 5 – 14 PP. Gejala meliputi : episode menangis, merasa sangat lelah, insomnia, mudah tersinggung, sulit konsentrasi. • Depresi pasca melahirkan (post partum depression) 25% dialami ibu PP Gejala dini pada 3 bulan pertama PP sampai bayi berusia 1 tahun. Etiologi : belum pasti, penelitian : faktor biologis perubahan hormonal, faktor psikolgis, faktor sosial seperti tidak mendapat dukungan suami, hubungan perkawinan tidak harmonis. • Psikosa pasca melahirkan (post partum psychosis) Jarang terjadi pada ibu dengan abortus, tubuh bayi dalam kandungan / lahir. Gejala terlihat dalam 3-4 minggu setelah melahirkan berupa: delusi, halusinasi dan perilaku yang tidak wajar. Penyebab mungkin berhubungan: perubahan tingkat hormonal, stress psikologis dan fisik, sifat pendukung tidak memadai Trend Current issue dan kecenderungan dalam keperawatan jiwa Trend atau current issue dalam keperawatan jiwa adalah masalah-masalah yang sedang hangat dibicarakan dan dianggap penting. Masalah-masalah tersebut dapat dianggap ancaman atau tantangan yang akan berdampak besar pada keperawatan jiwa baik dalam tatanan regional maupun global. Ada beberapa tren penting yang menjadi perhatian dalam keperawatan jiwa di antaranya adalah sebagai berikut : • Kecenderungan dalam penyebab gangguan jiwa • Trend peningkatan masalah kesehatan jiwa • Kesehatan jiwa dimulai masa konsepsi • Kecenderungan situasi di era global • Kecenderungan penyakit jiwa • Globalisasi dan perubahan orientasi sehat • Kecenderungan penyakit jiwa • Meningkatnya masalah psikososial • Trend bunuh diri pada anak Masalah AIDS dan NAPZA Pattern of parenting • Perspektif life span history • Kekerasan • Masalah ekonomi dan kemiskinan
Read more...

MODEL PENDOKUMENTASIAN

| | 0 komentar

Model Pendokumentasian ada 5, yaitu : 1) POR (Problem Oriented record) Pendekatan orientasi masalah pertama kali dikenalkan oleh Dr. Lawrence Weed tahun 1960 dari Amerika Serikat yang kemudian disesuaikan pemakaiannya oleh perawat. Dalam format aslinya pendekatan orientasi masalah ini dibuat untuk memudahkan pendokumentasian dengan catatan perkembangan yang terintegritas dengan sistem ini semua tim petugas kesehatan mencatat observasinya dari suatu daftar masalah. Pelaksanaan dari Pendekatan Orientasi Masalah ini (PORS), dapat disamakn dengan membuat satu sebagai bab-bab dari buku-buku tersebut. Beberapa istilah yang berhubungan dengan sistem pencatatan ini yaitu : PORS : Problem Oriented Record, juga dikenal sebagai orientasi pada masalah POR : Problem Oriented Record POMR : Problem Oriented Medical Record PONR : Problem Oriented Nursing Record, yaitu Metode untuk menyusun data pasien yang diatur untuk mengidentifikasikan masalah keperawatan dan medik Model ini memusatkan data tentang klien didokumentasikan dan disusun menurut masalah klien. Sistem dokumentasi jenis ini mengintegrasikan semua data mengenai masalah yang dikumpulkan oleh dokter, perawat atau tenaga kesehatan lain yang terlibat dalam pemberian layanan kepada klien. Model dokumentasi ini terdiri dari empat komponen, yaitu : a) Data Dasar Data dasar berisi semua informasi yang telah dikaji dari klien ketika pertama kali masuk Rumah Sakit. Data dasar mencakup pengkajian keperawatan, riwayat penyakit/kesehatan, pemeriksaan fisik, pengkajian ahli gizi dan hasil laboratorium. Data dasar yang telah terkumpul selanjutnya digunakan sebagai sarana mengidentifikasi masalah klien b) Daftar Masalah Daftar masalah berisi tentang masalah yang telah teridentifikasi dari data dasar. Selanjutnya masalah disusun secara kronologis sesuai tanggal identifikasi masalah. Daftar masalah ditulis pertama kali oleh tenaga yang pertama bertemu dengan klien atau orang yang diberi tanggung jawab. Daftar masalah ini dapat mencakup masalah fisiologis, psikologis, sosio kultural, spiritual, tumbuh kembang, ekonomi dan lingkungan. Daftar ini kultural, spiritual, tumbuh kembang, ekonomi dan lingkungan. Daftar ini berada pada bagian depan status klien dan tiap masalah diberi tanggal, nomor, berada pada bagian depan status klien dan tiap masalah diberi tanggal, nomor, dirumuskan dan dicantumkan nama orang yang menemukan masalah tersebut. c) Daftar Awal Rencana Asuhan Rencana asuhan ditulis oleh tenaga yang menyusun daftar masalah. Dokter menulis instruksinya, sedang perawat menulis instruksi keperawatan atau rencana asuhan keperawatan. d) Catatan Perkembangan (Progress Notes) Progress Notes berisikan perkembangan/kemajuan dari tiap – tiap masalah yang telah dilakukan tindakan dan disusun oleh semua anggota yang terlibat dengan menambahkan catatan perkembangan pada lembar yang sama. Beberapa acuan progress note dapat digunakan antara lain : SOAP (Subyektif data, Obyektif data, Analisis/Assesment dan Plan) SOAPIER (SOAP ditambah Intervensi, Evaluasi dan Revisi) PIE (Problem – Intervensi – Evaluasi) Keuntungan 1) Fokus catatan asuhan keperawatan lebih menekankan pada masalah klien dan proses penyelesaian masalah dari pada tugas dokumentasi 2) Pencatatan tentang kontinuitas dari asuhan keperawatan 3) Evaluasi dan penyelesaian masalah secara jelas dicatat. Data disusun berdasrakan masalah yang spesifik 4) Daftar masalah merupakan “checklist” untuk diagnosa keperawatan dan untuk masalah klien. Daftar masalah tersebut membantu mengingatkan perawat untuk suatu perhatian 5) Data yang perlu diintervensi dijabarkan dalam rencana tindakan keperawatan Kerugian 1) Penekanan pada hanya berdasarkan amalah, penyakit dan ketidak mampuan dapat mengakibatkan pada pendekatan pengobatan yang negatif 2) Kemungkinan adanya kesulitan jika daftar masalah belum dilakukan tindakan atau timbulnya masalah yang baru 3) Dapat menimbulkan kebingungan jika setiap hal harus masuk dalam daftar masalah 4) SOAPIER dapat menimbulkan pengulangan yang tidak perlu, jika sering adanya target evaluasi dan tujuan perkembangan klien sangat lambat 5) Perawatan yang rutin mungkin diabaikan dalam pencatatan jika flowsheet untuk pencatatan tidak tersedia 6) P (dalam SOAP) mungkin terjadi duplikasi dengan rencana tindakan keperawatan 2) SOR (Source Oriented record) Model ini menempatkan catatan atas dasar disiplin orang atau sumber yang mengelola pencatatan. Bagian penerimaan klien mempunyai lembar isian tersendiri, dokter menggunakan lembar untuk mencatat instruksi, lembaran riwayat penyakit dan perkembangan penyakit, perawat menggunakan catatan keperawatan, begitu pula disiplin lain mempunyai catatn masing-masing. Catatan berorientasi pada sumber terdiri dari lima komponen, yaitu : a) Lembar penerimaan berisi biodata b) Lembar order dokter c) Riwayat medik/penyakit d) Catatan perawat e) Catatan dan laporan khusus Keuntungan : a) Menyajikan data yang secara berurutan dan mudah diidentifikasi b) Memudahkan perawat untuk secara bebas bagaimana informasi akan dicatat c) Format dapat menyederhanakan proses pencatatan masalah, kejadian, perubahan, intervensi dan respon klien atau hasil Kerugian : a) Potensial terjadinya pengumpulan data yang terfragmentasi karena tidak berdasarkan urutan waktu b) Kadang-kadang mengalami kesulitan untuk mencari data sebelumnya, tanpa harus mengulang pada awal c) Superficial pencatatan tanpa data yang jelas d) Memerlukan pengkajian data dari beberapa sumber untuk menentukan masalah dan tindakan kepada klien e) Waktu pemberian asuhan memerlukan waktu yang banyak f) Data yang berurutan mungkin menyulitkan dalam interpretasi/analisa g) Perkembangan klien sulit di monitor 3) CBE (Charting By Exeption) CBE adalah sistem dokumentasi yang hanya mencatat secara naratif hasil atau penemuan yang menyimpang dari keadaan normal atau standar. Keuntungan CBE yaitu mengurangi penggunaan waktu untuk mencatat sehingga lebih banyak waktu untuk asuhan langsung pada klien, lebih menekankan pada data yang penting saja, mudah untuk mencari data yang penting, pencatatan langsung ketika memberikan asuhan, pengkajian yang terstandar, meningkatkan komunikasi antara tenaga kesehatan, lebih mudah melacak respons klien dan lebih murah. CBE mengintegrasikan 3 komponen penting, yaitu : a) Lembar alur (flowsheet) b) Dokumentasi dilakukan berdasarkan standar praktik c) Formulir diletakkan di tempat tidur klien sehingga dapat segera digunakan untuk pencatatan dan tidak perlu memindahlan data Keuntungan : a) Tersusunnya standar minimal untuk pengkajian dan intervensi b) Data yang tidak normal nampak jelas c) Data yang tidak normal secara mudah ditandai dan dipahami d) Data normal atau respon yang diharapkan tidak menganggu informasi lain e) Menghemat waktu karena catatan rutin dan observasi tidak perlu dituliskan f) Pencatatan dan duplikasi dapat dikurangi g) Data klien dapat dicatat pada format klien secepatnya h) Informasi terbaru dapat diletakkan pada tempat tidur klien i) Jumlah halaman lebuh sedikit digunakan dalam dokumentasi j) Rencana tindakan keperawatan disimpan sebagai catatan yang permanen Kerugian a) Pencatatan secara narasi sangat singkat. Sangat tergantung pada “checklist” b) Kemungkinan ada pencatatan yang masih kosong atau tidak ada c) Pencatatan rutin sering diabaikan d) Adanya pencatatan kejadian yang tidak semuanya didokumentasikan e) Tidak mengakomodasikan pencatatan disiplin ilmu lain f) Dokumentasi proses keperawatan tidak selalu berhubungan dengan adanya suatu kejadian Pedoman Penulisan CBE a) Data dasar dicatat untuk setiap klien dan disimpan sebagai catatan yang permanen b) Daftar diagnosa keperawatan disusun dan ditulis pada waktu masuk rumah sakit dan menyediakan daftar isi untuk semua diagnosa keperawatan c) Ringkasan pulang ditulis untuk setiap diagnosa keperawatan pada saat klien pulang d) SOAPIER digunakan sebagai catatan respon klien terhadap intervensi melalui tempat tinggal klien e) Data diagnosa keperawatan dan perencanaan dapat dikembangkan f) Kartu KARDEKS dan rencana tindakan dikembangkan setiap klien 4) Kardeks Sistem ini terdiri dari serangkaian kartu yang disimpan pada indeks file yang dapat dengan mudah dipindahkan yang berisikan informasi yang diperlukan untuk asuhan setiap hari. Informasi yang terdapat dalam kardeks meliputi : data demografi dasar, diagnosis medik utama, instruksi dokter terakhir yang harus dilaksanakan perawat, rencana asuhan keperawatan tertulis 9digunakan jika rencana formal tidak ditemukan dalam catatan klien), instruksi keperawatan, jadwal pemeriksaan dan prosedur tindakan, tindak pencegahan yang dilakukan dalam asuhan keperawatan serta faktor yang berhubungan dengan kegiatan hidup sehari-hari. Karena sering ditulis dengan pensil kecuali jika kardeks digunakan sebagai bagian permanen dari catatan klien. Potter dan Perry (1989) menekankan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan rencana asuhan pada kardeks, yaitu : rencana asuhan ditulis ketika perawat : a) Membahas tentang masalah kebutuhan klien b) Melakukan rode setelah identifikasi atau peninjauan masalah klien c) Setelah diskusi dengan anggota tim kesehatan lain yang bertanggung jawab terhadap klien d) Setelah berinteraksi dengan klien dan keluarganya Dalam kardeks harus ditulis tentang data pengkajian keperawatan yang berhubungan diagnostik, instruksi (observasi yang harus dilakukan, prosedur terkait dengan pemulihan, pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, cara khusus yang digunakan untuk mengimplementasikan tindakan keperawatan, melibatkan keluarga dan perencanaan pulang serta hasil yang diharapkan. Keuntungan menggunakan sistem kardeks karena memungkinkan mengkomunikasikan informasi yang berguna kepada sesama anggota tim keperawatan tentang kebutuhan unik klien terkait, diit, cara melakukan tindakan penanggulangan, cara meningkatkan peran serta klien atau waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan keperwatan tertentu. Kelemahan dari sistem kardeks, yaitu informasi dalam kardeks hanya terbatas untuk tim keperawatan saja dan tidak cukup tempat untuk menulis rencana keperawatan bagi klien dengan banyak masalah. 5) Komputerisasi Sistem dokumentasi dengan menggunakan komputer sudah makin luas digunakan di Rumah sakit dan instruksi pelayanan kesehatan terutama di negara yang telah berkembang. Perawat adalah pemakai utama sistem yang mengintegrasikan semua sumber informasi ini, serta memungkinkan semua tenaga kesehatan untuk dapat menggunakan informasi tersebut. Keuntungan menggunakan sistem dokumentasi dengan komputer antara lain memudahkan perawat merencanakan asuhan keperawatan, dapat mengevaluasi dan memperbarui informasi setiap saat, memanggil data yang sesuai dengan diagnosis keperawatan tertentu, serta mengurangi penggunaan berbagai flowsheet. Hanya kelemahan dari sistem dokumentasi dengan menggunakan komputer adalah dalam menjaga kerhasiaan informasi klien. Karena makin mudah menggunakan komputer, makin mudah pula untuk menyalahgunakan.
Read more...

cc

Cute Blue Flying Butterfly

eunhyukkk kku syang


,^_^.

Source: http://www.amronbadriza.com/2012/06/cara-memberi-burung-twitter-terbang-di.html#ixzz2IBufagjc

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

we are family

we are family

Blogroll


Anda berminat buat Buku Tamu seperti ini?
Klik di sini

Pages

kaLendeR kU :)

jaM akU :)

catAtaN akU


My Playlist

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

About Me

Foto Saya
Idha ELF Jewels (Nurse)
Lihat profil lengkapku

Blogger templates


Blog List

 
 
 
top